Selasa, 18 November 2014

Pengertian Linguistik, Subdisiplin Linguistik, dan Manfaat Linguistik (Linguistik Umum bag. 1)

Pengertian Linguistik, Subdisiplin Linguistik, dan Manfaat Linguistik (Linguistik Umum bag. 1)

 


A. Pengertian Linguistik
Kata linguistik berasal dari bahasa latin lingua yang berarti ’bahasa’. Linguistik adalah ilmu tentang bahasa atau ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek kajiannya. Dalam bahasa Perancis ada tiga istilah untuk menyebut bahasa yaitu:
  • Langue: suatu bahasa tertentu. 
  • Langage: bahasa secara umum.
  • Parole: bahasa dalam wujud yang nyata yaitu berupa ujaran.
Ilmu linguistik sering juga disebut linguistik umum (general linguistics). Artinya, ilmu linguistik tidak hanya mengkaji sebuah bahasa saja, melainkan mengkaji seluk beluk bahasa pada umumnya, yang dalam peristilahan Perancis disebut langage. Pakar linguistik disebut linguis. Bapak Linguistik modern adalah Ferdinand de Saussure (1857-1913). Bukunya tentang bahasa berjudul Course de Linguistique Generale yang diterbitkan pertama kali tahun 1916.

Dalam dunia keilmuan, tidak hanya linguistik saja yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Ilmu atau disiplin lain yang juga mengkaji bahasa diantaranya: ilmu susastra, ilmu sosial (sosiologi), psikologi, dan fisika. Yang membedakan linguistik dengan ilmu-ilmu tersebut adalah pendekatan terhadap objek kajiannya yaitu bahasa. Ilmu susastra mendekati bahasa sebagai wadah seni. Ilmu sosial mendekati dan memandang bahasa sebagai alat interaksi sosial di dalam masyarakat. Psikologi mendekati dan memandang bahasa sebagai pelahiran kejiwaan. Fisika mendekati dan memandang bahasa sebagai fenomena alam. Sedangkan linguistik mendekati dan memandang bahasa sebagai bahasa atau wujud bahasa itu sendiri.

Keilmiahan Linguistik
Pada dasarnya, setiap ilmu termasuk linguistik mengalami tiga tahap perkembangan yaitu:
Tahap pertama, yakni tahap spekulasi. Dalam tahap ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilakukan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu. Dalam studi bahasa dulu orang mengira bahwa semua bahasa di dunia diturunkan dari bahasa Ibrani, Adam dan Hawa memakai bahasa Ibrani di Taman Firdaus, dan Tuhan berbicara dalam bahasa Swedia. Semuanya itu hanyalah spekulasi yang pada zaman sekarang sukar diterima.

Tahap kedua, yakni tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahap ini para ahli bahasa baru mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau membuat kesimpulan.

Tahap ketiga, yakni tahap perumusan teori. Pada tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data yang dikumpulkan. Kemudian dirumuskan hipotesis yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dan menyusun tes untuk menguji hipotesis terhadap fakta yang ada.
Linguistik telah mengalami tiga tahapan tersebut sehingga dapat dikatakan linguistik merupakan kegiatan ilmiah.

 
B. Subdisiplin Linguistik
Subdisiplin linguistik dapat dikelompokkan berdasarkan:
  1. objek kajiannya adalah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu,
  2. objek kajiannya adalah bahasa pada masa tertentu atau bahasa sepanjang masa, 
  3. objek kajiannya adalah struktur internal bahasa itu atau bahasa itu dalam kaitannya dengan berbagai faktor di luar bahasa,
  4. tujuan pengkajiannya apakah untuk keperluan teori atau untuk terapan, dan
  5. teori atau aliran yang digunakan untuk menganalisis objeknya.

Berdasarkan Objek Kajiannya, Apakah Bahasa pada Umumnya atau Bahasa Tertentu
Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu linguistik dapat dibedakan menjadi linguistik umum dan linguistik khusus. Linguistik umum adalah linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum. Linguistik khusus berusaha mengkaji kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu.

Berdasarkan Objek Kajiannya, Apakah Bahasa pada Masa Tertentu atau Bahasa Sepanjang Masa

Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu linguistik dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik (linguistik deskriptif) dan linguistik diakronik (linguistik historis komparatif). Linguistik sinkronik mengkaji bahasa pada masa tertentu. 
Misalnya, mengkaji bahasa Indonesia pada tahun dua puluhan atau mengkaji bahasa Inggris pada zaman William Shakespeare. Linguistik diakronik berupaya mengkaji bahasa pada masa yang tidak terbatas; bisa sejak awal kelahiran bahasa itu sampai masa sekarang. Tujuan linguistik diakronik adalah untuk mengetahui sejarah struktural bahasa itu dengan segala bentuk perubahan dan perkembangannya.

Berdasarkan Objek Kajiannya adalah Struktur Internal Bahasa itu atau Bahasa itu dalam Kaitannya dengan Berbagai Faktor di Luar Bahasa
Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu linguistik dapat dibedakan menjadi linguistik mikro (mikrolinguistik) dan linguistik makro (makrolinguistik). Linguistik mikro mengarahkan kajiannya pada struktur internal bahasa. Dalam linguistik mikro ada beberapa subdisiplin yaitu:
  • Fonologi: menyelidiki tentang bunyi bahasa. 
  • Morfologi: menyelidiki tentang morfem.
  • Sintaksis: menyelidiki tentang satuan-satuan kata.
  • Semantik: menyelidiki makna bahasa.
  • Leksikologi: menyelidiki leksikon atau kosakata.
Linguistik makro menyelidiki bahasa dalam kaitannya dengan faktor-faktor di luar bahasa. Subdisiplin-subdisiplin linguistik makro antara lain:
  • Sosiolinguistik: mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaian di masyarakat. 
  • Psikolinguistik: mempelajari hubungan bahasa dengan perilaku dana kal budi manusia.
  • Antropolinguistik: mempelajari hubungan bahasa dengan budaya.
  • Filsafat bahasa: mempelajari kodrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia.
  • Stilistika: mempelajari bahasa dalam karya sastra.
  • Filologi: mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan tertulis.
  • Dialektologi: mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah.
Berdasarkan Tujuan Pengkajiannya Apakah untuk Keperluan Teori atau Untuk Terapan
Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu linguistik dapat dibedakan menjadi linguistik teoritis dan linguistik terapan. Linguistik teoritis berusaha mengadakan penyelidikan bahasa hanya untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu. Jadi, kegiatannya hanya untuk kepentingan teori belaka. Linguistik terapan berusaha mengadakan penyelidikan bahasa untuk kepentingan memecahkan masala-masalah praktis yang terdapat dalam masyarakat. Misalnya, untuk pengajaran bahasa, penyusunan kamus, dan pemahaman karya sastra. 
Berdasarkan Teori atau Aliran yang Digunakan untuk Menganalisis Objeknya
Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu linguistik dapat dibedakan menjadi tradisional, linguistik struktural, linguistik tranformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional, dan linguistik sistemik.

 
C. Manfaat Linguisik
Linguistik memberi manfaat langsung kepada orang yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan dengan bahasa seperti linguis, guru bahasa, penerjemah, penyusun kamus, penyusun buku teks, dan politikus. Manfaat linguistik diantaranya:
  • Linguis: membantu menyelesaikan dan melaksanakan tugasnya dalam penyelidikan bahasa. 
  • Guru bahasa: melatih dan mengajarkan keterampilan berbahasa.
  • Penerjemah: membantu dalam mendapatkan hasil terjemahan yang baik.
  • Penyusun kamus: membantu dalam menyusun kamus yang lengkap dan baik.
  • Penyusun buku teks: membantu dalam memilih kata dan menyusun kalimat yang tepat.
  • Politikus: membantu dalam aktivitasnya berkomunikasi dengan orang banyak.

Referensi:
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta


Download Resume Buku Linguistik Umum Karya Abdul Chaer

SASTRA33 ON FACEBOOK

adv

<p>Your browser does not support iframes.</p>

adv

Social Icons

Sample Text

Featured Posts

 

Sabtu, 15 November 2014

ARTIKEL PENDIDIKAN DAN KSEADARAN KRITIS

                                           PENDIDIKAN DAN KSEADARAN KRITIS
by: Ino Suhartono



Pendidikan yang merupakan salah satu penentu arah kemajuan suatu bangsa kini menjadi semakin rumit bagi bangsa kita yang tercinta ini. Realitas itu dapat kita lihat dari regulasi pemerintah dibidang pendidikan yang selalu latah, atau  meniru-niru “adegan” yang dilakukan oleh bangsa asing yang boleh jadi pemerintah kita hanya copy paste tanpa mempertimngkan apa manfaat, bagaimana memfungsikannya dan menyesuaikannya dengan kultur pendidikan kita dengan baik dan benar . Dan ketika ditanya, apa hal yang perlu diperbaiki, supaya Indonesia bisa menjadi bangsa yang lebih baik, kebanyakan orang akan menjawab: “Pendidikan”. Mereka berpikir, ketika semua orang Indonesia bisa mendapatkan pendidikan bermutu, maka kemampuan sumber daya manusia akan meningkat, dan ini akan bisa memperbaiki situasi Indonesia. Kita bisa saja setuju dengan pendapat ini. Namun pertanyaan berikutnya adalah, pendidikan macam apa yang kita perlukan?
Merujuk Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) no. 20 tahun 2003 yang menegaskan bahwa: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Hemat kami adalah bagaimana  sistem pendidikan yang kita terapkan bukan hanya mengangkat kecerdasan kognitif saja akan tetapi bagaimana sistem pendidikan tersebut dapat menjadikan manusia yang memiliki keseimbangan baik Body, Mind , maupun  Soul . Maka potensi manusia yang harus dikembangkan melalui pendidikan adalah menyangkut aspek-aspek pembelajaran fisik, emosi, sosial, kreativitas, spiritual, akademik, moral, imajinasi, budaya, dan estetika, untuk kemudian mengarahkan seluruh aspek tersebut kearah pencapaian sebuah kesadaran tentang hubungannya dengan Tuhan yang merupakan tujuan akhir dari semua kehidupan manusia di dunia”.

1.    Kesadaran kritis
Proses penyadaran dan pembebasan memang tidak datang dari firdaus. Sebaliknya proses tersebut harus diawali dengan penderitaan dalam bentuk paksaan. Secara normatif hal tersebut memang tidak dapat dibenarkan. Namun secara realistik setiap bentuk kebebasan selalu muncul setelah adanya penindasan dan paksaan. Setiap orang bebas untuk memilih makanan kesukaannya. Namun terlebih dahulu ia perlu belajar cara makan yang tepat. Untuk memperoleh pengetahuan tentang cara makan yang tepat, ia harus dipaksa belajar oleh orang tuanya. Setiap orangpun berhak untuk menuliskan pemikirannya secara bebas. Namun untuk bisa menulis, ia perlu dipaksa untuk belajar oleh guru dan orang tuanya. Sekali lagi cara ini memang tidak normatif, Namun kesadaran dan kebebasan adalah sesuatu yang muncul dari bangkai sejarah dan peradaban yang memang berisi penindasan. Konsep Hak Asasi Manusia (HAM) juga muncul dari pengalaman traumatis atas perbudakan dan penjajahan . Maka sudah sewajarnya untuk bisa berpikir kritis, orang perlu untuk dilatih dalam tekanan dan paksaan terlebih dahulu. Harapannya ia kemudian menjadi sadar, dan tergerak dari dalam untuk mengembangkan kesadarannya itu.
Kesadaran kritis merupakan tanggapan atas suatu masalah secara mendalam dan kritis, membentuk argumen dalam bentuk lisan maupun tulisan secara sistematis dan kritis, mengkomunikasikan ide secara efektif, dan mampu berpikir secara logis dalam menangani masalah-masalah kehidupan yang selalu tak terduga

2.    Pembebasan
Kebebasan yang diperlukan adalah kebebasan yang berakar pada kesadaran kritis orang yang tergerak oleh penindasan ataupun ketidakadilan sosial yang terjadi di depan matanya. Kebebasan yang dimaksud bukanlah kebebasan tanpa arah dan anarkis, melainkan kebebasan yang berorientasi pada upaya-upaya kritis, guna menciptakan masyarakat yang bermutu , adil dan sejahtera. Dalam arti ini kebebasan dan kesadaran kritis adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan! Pendidikan memainkan peranan yang sangat penting untuk menciptakan kesadaran kritis di pikiran para peserta didik. Dalam kaitan dengan itu kiranya sulit bagi kita untuk berkembang sebagai pribadi dan sebagai bangsa di abad 21 ini, jika kita tidak memiliki sikap kritis dalam menilai dan memaknai segala hal.
Kemunculan Kurikulum 2013 sejak bergulirnya wacana sampai pada pelaksanaannya sudah menuai banyak  pro kontra. Namun pihak Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tak bergeming, mereka tetap optimis implementasi kurikulum 2013 akan menjadi jalan terbaik bagi terwujudnya peserta didik yang berkualitas secara moral dan intelektual. Meski sebenarnya tak semudah itu mewujudkan peserta didik yang berkualitas secara moral dan intelektual. Karena sejatinya seperti pandangan Jean-Paul Sastre manusia adalah makhluk bebas, sehingga dirinya tidak suka dikekang.
Kurikulum 2013 dengan seperangkat aturan main yang ada di dalamnya, menghadirkan pengekangan terhadap peserta didik. Peserta didik didikte mengikuti semua aturan main yang ada pada Kurikulum 2013, sehingga mereka tidak diberi kesempatan menentukan bersama-sama model pembelajaran yang ideal. Mungkin Kemdikbud mengira ukuran ideal hanya cukup ditentukan oleh pemerintah dan pakar pendidikan yang dilibatkannya. Sementara peserta didik juga memiliki kebebasan berpikir dalam menentukan model pembelajaran yang ideal. Peserta didik bukan robot yang dapat digerakkan secara simultan dengan sistem mekanik yang ada. Peserta didik adalah manusia yang memiliki kebebasan berpikir dalam menentukan arah hidupnya. Mereka memiliki kemampuan merancang model pembelajaran ideal dalam proses belajar mengajar.






Rabu, 12 November 2014

buku ranah politik venan haryanto

RANAH POLITIK

 
Harga    : Rp.35.000 -- Diskon 15% -- Rp.29.750
beli

Sinopsis

Banyak orang menaruh pesimis dengan telaah teoritis atas politik, tatkala dikonfrontasikan dengan kenyataan kian ambruknya tatanan politik kita dewasa ini. Percuma kita berteori tinggi mengenai politik, toh politik kita kian jauh panggang dari api dengan kepentingan umum. Opini seperti ini, hendaknya tidak menyurutkan gelora inteletual kita untuk tetap berteori mengenai politik. Hal inilah yang menjiwai seluruh pembahasan dalam buku ini. Filsuf sosial asal Perancis yang dibahas dalam buku ini, kiranya menjadi masukan yang berharga buat kita untuk mentahtakan politik yang berkiblat kepada bonum commune.

Detail Buku

Judul
: RANAH POLITIK
Harga
: Rp.35.000 -- Diskon 15% -- Rp.29.750
Penerbit
: LEDALERO
Tanggal Terbit
: 01 Mei 2014
Jumlah Halaman
: 163 halaman
Ukuran
: 12 x 19 cm
Berat
: 0.20 kilogram
No.ISBN
: 978-979-9447-97-5
EAN
: 978-979-9447-97-5

Sabtu, 08 November 2014

makalah opini artikel pendidikan

                                                  Menenun Idealisme di tengah Modrnitas
http://smakgregoriusreo.blogspot.com

By   Ino Suhartono
STAF PENGAJAR SMAK St. GREGORIUS REO

     Efrem, bukan nama sebenarnya, sudah lama bercita-cita untuk menjadi seorang Pelukis. Namun, menurut orang tuanya, pekerjaan sebagai pelukis tidak akan mampu memberikan uang yang cukup untuk hidup. Maka, mereka menghalangi cita-cita anaknya tercinta itu. Efrem pun akhirnya menekuni pendidikan di bidang lain seturut kehendak orangtuanya, dan mengalami banyak kesulitan karenanya.
Cerita seprti ini banyak terjadi di masyarakat kita di manggarai. Seorang anak harus menyerahkan mimpinya, atau ide tentang masa depannya, karena tekanan lingkungan. Dengan proses ini, dua hal kiranya dirugikan. Boleh jadi Manggarai akan kehilangan calon pelukis berbakat di masa depan dan di satu sisi, Efrem dan ratusan ribu pemuda lainnya, harus hidup tidak bahagia, karena mengingkari panggilan hidupnya.
Mengutip Romo Mangun dalam St. Sularto, “ Pendidikan Manusia Merdeka, dalam Impian Dari Yogyakarta, (Yogyakarta: Kompas, 2005), menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang berakal budi, animal rationale. Dalam arti, manusia mampu berpikir, menentukan pilihan, dan mengambil tindakan berdasarkan pilihannya atau lebih mudahnya makhluk merdeka. Dengan pengertian ini maka manusia mempunyai tanggung jawab atas apa yang dipilih dan diperbuatnya. Keterangan ini bisa ditemui banyak dalam belantara pemikiran Romo Mangun meski tidak secara eksplisit. Diantaranya sebagaimana yang dituturkan secara tersirat berikut ini:
“Namun yang lebih penting ialah kebenaran yang tidak abstrak, akan tetapi yang sudah menjelma, merealisasi diri dalam sikap serta tindakan manusia yang benar, yang tidak bohong, tidak menipu, tidak palsu, melainkan yang betul, yang genuine, yang asli atau dengan istilah lain: yang fitri. Dalam aspek itulah benar(verum) lalu mengejawantahkan diridalam yang baik (bonum) dan dalam pengetrapan khususnya: yang indah (pulcbrum) bila diteruskan ke dalam aspek pertanggungjawaban manusia yang berdaulat dan berkehendak merdeka, maka kebenaran berbunga menjadi yang bermoral, yang etis, yang susila.”
Secara kodrat pada diri manusia sudah tertanam bakat-bakat atau potensi-potensi yang diberikan oleh Tuhan padanya. Diantara potensi-potensi tersebut ialah potensi ingin selalu tahu, ingin bertanya, ingin mengeksplorasi, ingin maju, ingin mekar dan ingin mencapai kepenuhan diri. Pandapat ini ia sandarkan pada pemikiran filusuf klasik Yunani, Socrates dan juga tokoh psikologi perkembangan anak kenegaraan Swiss, Jean Piaget.
Menurut Romo Mangun pada dasarnya manusia ialah makhluk bahasa. Dalam arti manusia ialah makhluk yang mempunyai potensi berkomunikasi yang berguna atau digunakan sebagai alat untuk mengembangkan potensi-potensi awal yang dipunyainya. Bahasa yang dimaksud Romo Mangun di sini ialah bukan bahasa yang berarti sempit, yakni bahasa hanya symbol verbal komunikasi lisan, namun lebih dari itu, yaitu juga menyangkut komunikasi lain yang bermacam-macam bentuk, semisal bahasa tubuh, bahasa gerak, bahasa isyarat dan bahkan interaksi sosial. Atau, jika meminjam pernyataan Paul Suparno, manusia pada dasarnya, dengan bahasa yang berarti luas pastinya, ialah makhluk sosial. Makhluk yang tidak bisa hidup dan berkembang menuju kesempurnaan tanpa bantuan atau bersama orang lain
Manusia adalah makhluk bebas yang mempunyai bakat atau potensi bawaan, dan makhluk bedimensi sosial, menurut Romo Mangun manusia juga makhluk yang bernilai dan ber-Tuhan. Manusia makhluk yang bernilai karena manusia adalah ciptaan Tuhan yang berharga, yang tidak dapat direndahkan atau diperkosa haknya. Terkait keyakinan ini terlihat jelas pada kegigihan Romo Mangun memperjuangkan kesejahteraan masyarakat miskin baik dari segi kesejahteraan rohani yakni dengan jalan pendidikan, maupun dari segi kesejahteraan jasmani semisal pendampingan warga tepi Kali Code dan warga korban pembangunan waduk Kedungombo dengan pembuatan perumahan.

Idealisme dan Visi
Setiap orang pasti punya ide tentang hidup macam apa yang akan dijalaninya. Dalam arti ini, setiap orang adalah idealis. Artinya amat sederhana, orang perlu untuk hidup seturut dengan ide yang telah dipilih dan dipikirkannya. Ia bukanlah pemimpi yang tak punya tujuan, melainkan sebaliknya, orang yang memiliki visi tentang hidupnya dan hidup orang sekitarnya di masa depan.
Visi radikal tentang hidup semacam inilah yang sekarang ini amat kurang di Indonesia. Orang hidup sekedarnya. Orang bekerja seadanya, tanpa ambisi untuk mencapai sesuatu yang lebih baik untuk dirinya dan untuk lingkungan sekitarnya. Lalu, orang mati, tanpa meninggalkan jejak dirinya yang nyata dan bermakna untuk lingkungan sekitarnya.
Ketika seseorang memiliki idealisme yang kuat, ia juga akan memiliki visi yang kokoh. Visi yang kokoh ini akan menuntunnya di dalam setiap perjalanan hidup. Visi yang kokoh ini juga akan membuatnya mampu bertahan di tengah berbagai tantangan hidup yang kerap kali mencekik begitu kuat. Dengan visi ini, orang bisa melampaui dorongan-dorongan negatif dari dalam dirinya, dan berusaha mewujudkan diri terbaiknya.


Hedonisme

Life is too short. Bahkan ketika anda membaca tulisan ini, waktu yang tak pernah mau bersabar, ia terus  berjalan. “Carpe Diem.Seize the day”, bisik professor John Keating kepada murid-muridnya yang sedang mencoba menafsirkan puisi Herrick, ‘To the virgins, to make much of time.’ Carpe diem ; bisikan para arwah agar orang tidak terlambat menyadari kesempatan yang dapat diraih selagi hidup.Mungkin anda masih ingat, itulah adegan awal film Dead Poets Society karya Thomas Schulman yang dibintangi oleh Robin Williams.
     Mulanya adalah Quintus Horatius Flaccus, penyair Romawi yang lahir tahun 65 SM. Ia menulis sebuah syair puji-pujian yang ditutup dengan kalimat berbunyi, “ carpe diem, quam minimum credula postero.“ Raihlah hari ini, jangan terlalu percaya pada esok. Carpe diem menjadi slogan yang gampang dingat untuk pandangan hidup yang mengagungkan jangka pendek, sekaligus merengkuh kesenangan sebanyak-banyaknya.

     Tentu saja kita bisa menafsirkan ungkapan itu menurut dua makna yang berlawanan. Pertama, orang hidup dalam kepenuhan eksistensinya sebagai manusia selagi ada kesempatan. Artinya ia mengembangkan diri sepenuh-penuhnya, dan merasa tidak cukup jika hanya mencapai yang minimal. Kedua, orang mencari kesenangan sebanyak-banyaknya selagi bisa. Jika pengertian yang kedua ini kita hamparkan di atas permadani modernitas, maka carpe diem ini ibarat untuk masuk ke gerbang gaya-hidup, lifestyle.


     Modernitas mendamparkan kita, meminjam ungkapan teoritikus ilmu social dari Inggris, Anthony Giddens, ke sebuah dunia yang tunggang langgang (Runaway World, 1999). Kita terengah payah, gagap tak siap berkejaran dengan perubahan yang membuat hari ini segera basi atau usang . Kita cukup mengamati iklan atau rubrik gaya hidup di media massa  untuk mengetahui betapa ketinggalan zaman model telepon gengggam yang telah kita beli 3 bulan yang lalu, atau warna rambut yang belum lama ditawarkan penata rias salon langganan, bahkan jenis olahraga yang kita lakukan.Baru saja kita merasa lebih sehat setelah ikut kelompok yoga yang ditawarkan majalah kesayangan, seorang teman meyakinkan kita bahwa salsa –lah seni olah tubuh yang bukan hanya membuat bugar ceria tetapi terlebih lagi, sedang in.  Ada begitu banyak tawaran.Kita ditarik ke berbagai arah tanpa tahu sepenuhnya standar apa yang mau kita pakai untuk memilih gaya hidup tanpa merasa “kuno” .Dulu orang mengacu pada petuah orang-orangtua. Akan tetapi, masihkah kita bisa bersandar pada nasihat mereka untuk, misalnya, mengatasi problem karier dunia modern yang menekankan nilai ekonomis manusia? Sementara, orang tua kita masih berpegang pada karakater.
Dengan perkataan lain, tradisi- entah bersumber dari agama, kekerabatan, ataupun budaya lokal yang berabad-abad menjadi pegangan hidup manusia saat menghadapi beragam masalah, lepas dari prakterk kehidupan sehari-hari. Begitu banyak aspek-aspek tradisi dan kearifan lokal yang direduksi sehingga tradisi kehilangan daya sebagai pembentuk hidup kita.

     Tentu saja ada pakar, para expert.Mereka siap membantu asal kita siap membayar biaya konsultasi.Namun disinilah masalahnya.Kita menerima tradisi begitu saja karena percaya akan nilai – nilai (baik) yang diperkenalkan secara turun temurun.Sedangkan para expert mengajukan klaim yang berlainan kala mempromosikan keahlian mereka, sehingga kita justru jatuh ke dalam keraguan.Mau pilih yang mana? Seorang ahli kesehatan mengatakan bahwa vitamin C dosis tinggi penting bagi daya tahan tubuh, tetapi pakar yang lainnya mengatakan bahwa hal itu justru membahayakan organ tubuh.

     Kebebasan untuk memilih yang begitu yang dibanggakan dunia social modern (simaklah reklame sms – banking sebuah Bank, “Tentukan sendiri cara anda”), sesungguhnya merupakan beban.Dalam kebingungan, orang dengan sabar mudah menoleh ke standar yang paling banyak diacu orang.

     Akan tetapi, siapakah pembentuk standar itu ? Tak lain, kondisi modernitas itu sendiri yang salah satu penyangganya adalah kapitalisme.Mudahnya, dalam dunia dengan kondisi-kondisi di dalamnya semakin lepas – berlarian, kita didorong secara sadar atau tidak memilih gaya hidup hasil rekayasa kepentingan para pemilik modal yang mau menumpuk laba secepatnya.

     Dunia tunggang langgang dengan jutaan tawaran mengejar kita, juga penuh dengan risiko yang menggelisahkan.Bukan hanya terror bom yangbisa membunuh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, tetapi juga polusi udara, air dan tanah. Bedanya, bom mencederai sejumlah orang dalam waktu cepat, polusi membunuh secara perlahan.

     Perubahan lingkungan dan gaya hidup boleh jadi juga merupakan penyebab berjenis penyakit yang tak dikenal sebelumnya.Kita belum lupa dunia yang panik oleh wabah SARS beberapa waktu lalu.Kita juga paham bahwa ketergantungan pada bahan bakar minyak menyebabkan hampir semua orang modern rentan terhadap krisis minyak dunia,yang bisa memicu perang massive antar negara-negara yang berkepentingan.

    
     Pada saat bersamaan, dalam  dunia karier,  kita  berdebar  memikirkan  kemungkinan pemutusan  hubungan  kerja.  Bukan semata  akibat  krisis  ekonomi, melainkan  karena  jenis pekerjaan baru  muncul  dan hilang dengan cepat sehingga tiba-tiba saja keahlian  kita menjadi usang. Sepanjang sejarah,  belum  pernah  umat  manusia  berhadapan  dengan  situasi  tak pasti dalam skala yang besar seperti sekarang ini.


     Manusia, betapapun maju dan canggih taraf hidupnya, ternyata amat rentan.Kerentanan itu diperburuk dengan  rendahnya kemempuan kontrol tata dunia internasional dalam menghadapi lalu lintas perdagangan manusia, perdagangan obat bius, perdagangan senjata, perilaku  korporasi  transnasional,  konflik  bersenjata, serta kemiskinan, dan kelaparan di dunia yang sedang berkembang.

     Konsep   manusia   yang   rentan   saat   berhadapan   dengan   resiko,   bukan   konsep baru. Hanya saja, sumber ketidakpastian nasib manusia dulu berhubungan dengan ketidakmampuannya  menangkal  kodrat  alam.  Sekarang,  manusia  rentan  terhadap  buah tindakannya sendiri. 

     Dalam buku The Culture of Narcissism, Christopher Lasch mengungkapkan hal menarik. Resiko yang bersifat demikian meng-global meyebabkan orang, dalam taraf sehari-hari tidak lagi memikirkan dengan serius bagaimana memperkecil potensi bencana akibat ulah manusia. Sebaiknya, orang memilih berkonsentrasi pada keselamatan diri sendiri, serta menanggalkan kepedulian dan harapan bahwa lingkungan sosial yang luas masih bisa dikontrol. Akibatnya, orang pun sibuk berlebihan dengan diri sendiri, seraya mencari cara demi self-improvement. Ia gagal membuat batas yang jelas antara kondisi di luar diri dengan di dalam dirinya sendiri. Ia hanya mampu menghubungkan semua peristiwa yang berlangsung disekitarnya dengan kebutuhan dan hasrat masa kininya. Jika ada sebuah kejadian, ia hanya bertanya , “Apa artinya bagi saya?” Setiap tindakan yang ia anggap baik, hanyalah yang memenuhi hasrat pribadinya.

     Ketika improvement paling gampang dilakukan pada tubuh, orang pun cenderung meningkatkan penampilan, sampai-sampai ke taraf pemujaan tubuh sendiri. Narsisistik. Itulah istilah yang tepat untuk perilaku itu, berangkat dari kisah Narcissus yang terpukau menggagumi dirinya sendiri.

      Tentu saja orang perlu memperhatikan, bahkan megasihi tubuhnya. Kapan seseorang jatuh pada narsissme? Jawabannya sederhana. Ketika diet, cara berpakaian, gaya rambut, atau tipe kecantikan tertentu yang merupakan bagian penting dari gaya hidup, sudah menyebabkan kita menjadikan tubuh sebagai inti dari proyek kita menciptakan identitas. Tubuh menjadi pusat kesenangan sekaligus kegelisahan agar tetap dan terus dikagumi.


Carpe diem.

     Sudah s ejak  sastrawan  Inggris,  Oscar Wilde,  menulis  novel  Dorian Grey,   new hedonism ia sebut sebagai tuntutan zaman (maksudnya, abad ke-18).         Namun hedonisme (hedone dalam bahasa Yunani berarti kesenangan)  sebetulnya sudah muncul sejak abad ke-4 SM. Bagi para hedonis,    yang  sungguh  baik     bagi     manusia     adalah     yang   memberi kesenangan. Bukankah sudah  sejak  kecil  mansia  selalu merasatertarikakankesenangan?Bila kesenangan sudah tercapai , ia tidak akan mencari sesuatu yang lain lagi.

     Bagi para hedonis, yang baik itu juga adalah kesenangan masa kini dan di sini; bukan yang berasal dari masa lalu ataupun yang berhubungan dengan masa depan. Kesenangan juga perlu dibatasi pada kesenangan yang mudah diraih, bukan yang diupayakan dengan kerja keras. Kesenangan itu terutama lagi adalah kesenangan rohani hanyalah penghalusan saja dari kesenangan jasmani.

     Mungkin kita tidak perlu sampai membaca Dorian Gray untuk memahami ‘hedonisme baru’ sesuai dengan zamannya. Cukuplah   kita   menyetel   televisi    dan   memilih salah satu saluran, yang mana saja, antara pukul 19.00 dan pukul 21.00. Itu prime time.  Artinya,  jumlah pemirsa diyakini paling banyak.   Saat   itu  semua  saluran  menayangkan  hiburan  mulai dari dangdut, sinetron, kuis sampai gosip.

     Tawaran-tawaran kesenangan. Ada musik yang dilengkapi dengan goyang tubuh yang kian hari kian sensual.       Ada  tawaran   dapat  uang  hanya  dengan  menebak jawaban bagi pertanyaan yang sebagian besar tidak mencerdaskan. Ada dunia rekaan sinetron yang  hampir tak ditemukan dalam ketegangan kehidupan sehari-hari. Ada kisah sensasional para   selebriti. Tayangan-tayangan   itu pun   ditaburi   janji   iklan   bagi   improvement  kilat   laksana  silap (kulit lebih putih dalam lima hari, tubuh lebih langsing dalam seminggu, rambut lebih berkilap sekali keramas dengan sampo produk tertentu).

     Saking sibuknya mencari kesenangan, jangan-jangan pada akhirnya kita cuma meraih udara   kosong.   Sementara,   para  pemilik  modal  yang  membuat  kita  berlarian  mengejar kesenangan yang mereka tawarkan,  meraih  laba sebanyak-banyaknya  dari kantung jiwa kita yang semakin dangkal.


     Satu bulan yang lalu si Ana bercerita, Teman sekelasnya baru saja menerbitkan novel. Mulanya  Cuma  cerpen  majalah  dinding  sekolah,   yang  selama  enam bulan ia kembangkan.  Ini  satu  contoh  saja.   Tidak kalah mentereng juga beberapa surat kabar  terbitan Ibu kota Jakarta mempubikasikan berita tentang   remaja   Indonesia  yang berhasil  mendapat  medali emas dan perak di olimpiade fisika internasional.
     Di sana-sini memang ada kisah kecil berbeda. Di tengah gemerlap dunia iklan dan tawaran gaya hidup ‘demi penampilan’, kita bertemu butir-butir keseriusan dan ketekunan untuk menggarap kedalaman pengalaman. Yang membesarkan hati, karya-karya itu muncul dari salah satu kelompok umur yang dianggap paling rentan terhadap panggilan carpe diem.

Korupsi dan Krisis Idealisme

     Gaya hidup  memang  melibatkan kita. Artinya,   semua itu tidak akan ada di sana kalau kita  tidak  membiarkannya.   Semua  itu  terjadi  karena  orang  tidak  memiliki  idealisme  dan visi   yang   jelas .  Tanpa idealisme, tanpa visi yang jelas, ,  orang tidak  memiliki  fokus dalam hidupnya.  Hari ini, ia Salesman. Besok, ia guru.  Lusanya,  ia menjadi  koki. Akhirnya, ia tidak menjadi   apa-apa   dalam   hidupnya.     Ketika  ia   sadar  akan hal  ini,   kubur  sudah  menanti di depan mata.
     Tanpa visi yang jelas, orang akan mudah tergoda oleh korupsi. Tanpa idealisme, orang akan mudah menyuap dan disuap, sambil merugikan banyak orang lainnya. Penegak hukum tanpa idealisme akan berubah menjadi preman yang berseragam. Guru tanpa idealisme hanya akan berubah menjadi tukang tes tanpa visi yang menyiksa batin anak didiknya.
     Pejabat publik tanpa idealisme akan berubah menjadi koruptor yang memakan uang rakyat. Orang tua tanpa idealisme akan berubah menjadi semata penyedia makan, pakaian, dan rumah, tanpa pendidikan nilai yang membuat anaknya menjadi manusia yang utuh. Pekerja tanpa idealisme hanya akan menjelma menjadi mesin-mesin tanpa ide dan kreativitas. Tanpa visi dan idealisme, manusia tidak akan menjadi manusia, melainkan seonggok daging yang bernapas dan berjalan di atas permukaan bumi.
Membangun Idealisme
     Pendidikan jelas merupakan alat paling jitu untuk membangun dan mengembangkan idealisme suatu bangsa. Walaupun memiliki peran amat penting, sekolah formal tidak bisa dijadikan satu-satunya penggerak pendidikan. Pendidikan yang tertinggi dan terutama adalah teladan hidup langsung dari orang-orang yang sudah ada sebelumnya. Bourdieu, seorang filsuf Prancis, berulang kali menegaskan, bahwa tindakan jauh lebih kuat dari kata-kata, dan itu paling jelas di dalam pendidikan moral.
     Sulit membuat pendidikan anti korupsi, ketika hampir semua golongan tua di Indonesia melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme setiap harinya, seringkali tanpa disadari. Sulit mengajak bangsa ini untuk memiliki nilai moral tinggi, ketika nyaris semua golongan tua hidup untuk menipu dan meraup kekayaan, seringkali dengan cara-cara yang biadab. Sulit mengajak bangsa ini untuk jujur, ketika guru mengajarkan siswanya untuk menyontek saat ujian nasional. Jelaslah, teladan hidup dari orang-orang yang sudah hidup sebelumnya memainkan peranan amat penting dalam pemberadaban bangsa.
     Sebagai bagian dari idealisme, visi tak akan pernah utuh menjadi kenyataan. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah mendekati visi tersebut, walaupun tak pernah bisa identik sepenuhnya. Itulah sebabnya, di dalam kata idealisme terdapat kata ide, karena itu adalah harapan dan visi, yang perlu terus dikejar sepanjang hidup, walaupun tak bisa direngkuh sepenuhnya.



Selasa, 04 November 2014

makalah opini artikel pendidikan kritis sebagai pembebasan

OPINI
                                                      Pendidikan Kritis Sebagai Pembebasan
By: INO  SUHARTONO

    Sejarah telah menorehkan luka yang dalam ketika kita di jajah baik secara fisik, ekonomi maupun pengetahuan lebih dari 350 tahun. Dan ketika proklamasi di degungkan pada 17 Agustus 1945, sebagai sebuah momentum bangsa yang telah mengantarkan rakyat pada pintu gerbang kemerdekaan, maka saat ini setelah 64 tahun lebih, apakah kita masih berada pada pintu gerbang kemerdekaan ?
Sebagai generasi penerus perjuangan bangsa, seyogyanya mari kita sama-sama merenung. Jika hanya secara formalitas belaka, kita telah merebut kemerdekaan atas penjajahan fisik dll. Kita telah terbukti bisa bebas dan merdeka. Namun demikian, secara sadar maupun tidak sadar, terkadang kita telah lupa dengan esensi ajaran dari sebuah kata Merdeka.
Jika esensi terpenting dari  kata Merdeka adalah bagaimana kita bisa membebaskan diri dari tirani kebodohan, kesombongan, keserakahan dan juga egoistis. Lalu setelah kita merdeka atasnya, maka seyogyanya kita berusaha untuk bisa membantu orang lain agar terbebas dari tirani tersebut. Maka apakah saat ini kita benar-benar telah merdeka ?
Miris rasanya jika kita melihat realita saat ini. Tirani kebodohan dan pembodohan masih terus bercokol di berbagai pelosok nusantara. Lihat saja kurikulum pendidikan kita saat ini yang masih mengacu pada pedoman era industry. Dimana sekolah-sekolah dan tempat kuliah sekalipun terus-menerus hanya mencetak para robot agar bisa bekerja, bekerja dan bekerja. Terbukti ketika terjadi pembukaan lowongan PNS, yang di butuhkan paling cuma 10 orang saja, yang mendaftar bisa sampai ribuan. Tidak hanya itu, lowongan pekerjaan swastapun demikian halnya. Hampir satu juta pengangguran intelektual kita saat ini. Apakah tidak ada evaluasi sama sekali dari kasus tersebut untuk bisa merancang sebuah arsitek pembangunan SDM masa depan ?
Ini baru satu kasus, masih banyak sekali tirani kebodohan dan pembodohan yang lain yang bisa kita kuak. Dan ini artinya kita benar-benar belum Merdeka.

Pendidikan perlu untuk menumbuhkan kesadaran kritis peserta didiknya. Pendidikan harus mengajak peserta didik untuk jeli melihat ketidakadilan di dalam kehidupan sosial, bersikap reflektif, merumuskan pemikirannya tentang ketidakadilan itu, dan kemudian mengajukan solusi untuk melenyapkannya. (Amelia, 2009) Pendidikan yang masih berfokus pada pengajaran teknis yang sempit di dalam tembok-tembok displin ilmu tidak akan pernah mampu menghasilkan peserta didik yang memiliki kesadaran kritis. Di dalam masyarakat demokratis seperti Indonesia, pendidikan yang berfokus pada penciptaan kesadaran kritis amatlah diperlukan. Sebuah negara yang masih berfokus pada penciptaan ‘tukang-tukang’ ilmiah tidak akan mampu menciptakan kultur demokratis yang diperlukan, guna menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera melalui jalan-jalan demokratis.
Pendidikan sebagai Penyadaran (Paulo Freire)

Argumen tersebut dirumuskan oleh Paulo Freire untuk melawan semua bentuk penindasan yang terjadi pada masyarakat Sao Paulo, Brasil pada masa ia hidup. Ia berpendapat bahwa pendidikan tidak boleh steril dari politik. Sebaliknya pendidikan harus mampu ikut serta di dalam proses untuk mewujudkan politik yang berakar pada keadilan. Pendidikan harus melibatkan dirinya di dalam dinamika sosial masyarakat, termasuk di dalamnya dinamika ekonomi, politik, dan budaya.
Freire juga menegaskan bahwa pendidikan perlu untuk membuka mata peserta didik terhadap penindasan yang terjadi di depan matanya, yang mungkin selama ini belum disadari. Pengandaian dasar Freire adalah bahwa realitas selalu menyimpan ketidakadilan dan penindasan di baliknya. Realitas harus terus dicurigai sebagai sesuatu yang menyembunyikan ketidakadilan. Proses pendidikan adalah proses untuk menyadarkan peserta didik, sehingga mereka tergerak untuk membongkar ketidakadilan dan penindasan yang terjadi di depan mata mereka.

         Di Indonesia mayoritas guru dan dosen belum mengetahui atau meresapi pemikiran Freire tersebut. Mereka berfokus pada transfer pengetahuan teknis, tanpa ada dorongan lebih jauh untuk membuka mata peserta didik terhadap ketidakadilan sosial yang terjadi sehari-hari di Indonesia. Akibatnya peserta didik menjadi tidak peka terhadap situasi sekitar mereka. Dan lebih parah lagi, mereka justru menjadi orang-orang yang melestarikan dan bahkan mengembangkan penindasan sosial yang ada.
Pada hemat saya pola pendidikan semacam itu sama sekali tidak membebaskan dan menyadarkan. Sebaliknya pola pendidikan semacam itu pada akhirnya akan menghancurkan masyarakat secara umum. Para peserta didik menjadi orang yang angkuh dan berpikir konservatif. Mereka merasa diuntungkan dengan adanya penindasan, maka mereka lalu diam saja, atau justru memperparah keadaan. Dalam arti ini tujuan pendidikan telah gagal sejak awal.
opini artikel pendidikan kritis sebagai pembebasan
Dipaksa untuk Bebas

Proses penyadaran dan pembebasan memang tidak datang dari surga. Sebaliknya proses tersebut harus diawali dengan penderitaan dalam bentuk paksaan. Secara normatif hal tersebut memang tidak bisa dibenarkan. Namun secara realistik setiap bentuk kebebasan selalu muncul dari adanya penindasan dan paksaan.
Setiap orang bebas untuk memilih makanan kesukaannya. Namun terlebih dahulu ia perlu belajar cara makan yang tepat. Untuk memperoleh pengetahuan tentang cara makan yang tepat, ia harus dipaksa belajar oleh orang tuanya. Setiap orang berhak untuk menuliskan pemikirannya secara bebas. Namun untuk bisa menulis, ia perlu dipaksa untuk belajar oleh guru dan orang tuanya.
Dengan demikian kesadaran dan kebebasan adalah sesuatu yang muncul dari bangkai peradaban yang memang berisi penindasan. Konsep Hak Asasi Manusia (HAM) juga muncul dari pengalaman traumatis atas perbudakan dan penjajahan. Maka sudah sewajarnya untuk bisa berpikir kritis, orang perlu untuk dilatih dalam tekanan dan paksaan terlebih dahulu. Harapannya ia kemudian menjadi sadar, dan tergerak dari dalam untuk mengembangkan kesadarannya itu.

Pendidikan Demokrasi

Di dalam masyarakat demokratis, setiap orang berhak untuk berpikir dan menyampaikan pemikirannya tersebut. Ia berhak untuk membentuk kelompok ataupun organisasi, dan menyampaikan pemikirannya di dalam organisasi itu. Dalam arti ini dapatlah disimpulkan, bahwa konsep kebebasan sangatlah penting di dalam masyarakat demokratis. Namun kebebasan macam apa yang perlu untuk dirawat dan dikembangkan?
Kebebasan yang diperlukan adalah kebebasan yang berakar pada kesadaran kritis orang yang tergerak oleh penindasan ataupun ketidakadilan sosial yang terjadi di depan matanya. Kebebasan di dalam masyarakat demokratis bukanlah kebebasan tanpa arah dan anarkis, melainkan kebebasan yang berorientasi pada upaya-upaya kritis, guna menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera. Dalam arti ini kebebasan dan kesadaran kritis adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan! Pendidikan memainkan peranan yang sangat penting untuk menciptakan kesadaran kritis di pikiran para peserta didik. Ingat, ditangan merekalah masa depan Bangsa Indonesia ditentukan.***

opini pendidikan

                 PENDIDIKAN NASIONAL TERHIMPIT KURIKULUM DAN ANGGARAN


Memasuki abad 21 sumberdaya manusia kita masih kurang kompetitif dibandingkan dengan Negara-negara di Asia Tenggara. Keadaan ini masuh diperparah dengan biaya pendidikan yang semakin mahal. Dalam konteks saat ini, kemunculan sebuah kurikulum menjadi menjadi kebutuhan krusial dalam proses pengembangan pendidikan di Indonesia. Berbagai persoalan mulai muncul dejak diberlakukannya kurikulum baru.

Ketidakoptimalan KBK disebabkan oleh tiga hal.

         Pertama inkonsistensi aplikasi menyebabkan anburadulnya pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Dengan demikian, diharapkan tercipta sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki pengetahuan saja, tetapi juga keterampilan hidup. Namun, padatnya materi pelajaran disekolah dengan waktu yang relative singkat menyebabkan para guru kelabakan dalam menerapkan KBK untuk mencapai kompetensi. Sebagai contoh, untuk SMA kelas I terdapat 16 mata pelajaran (MP) dalam waktu 37-40 jam pelajaran (JP) perminggu. Dalam hal ini, ! JP sama dengan 45 menit. Dengan jumlah MP yang banyak dan JP yang sedikit itu siswa dituntut untuk menguasai kompetisinya, bagaimana bisa optimal?

          Kedua, ada perbedaan interprestasi dan implementasi KBK di tingkatpenatar, kepala sekolah, dan para guru karena karena sosialisasi belum optimal. Guru banyak yang menerapkan KBK dengan porsi pembelajaran yang berlebihan kepada siswa. Ada guru yang mengajarkan matematika langsung pada soal-soal kemudian dibahas. Ketika ditanya alasannya KBK.
Ketika kemunculan KBK yang berpijak pada asumsi bahwa kondisi sekolah di Indonesia tidak sama seharusnya menjadi kerangka dasar bagi pemerintah dalam menerapkannya. Namun pemerintah masih terlalu mencampuri wewemag sekolah. Sebagai contoh, UAN yang masih sentralistik dengan standar nilai dan soal ujian ditentukan oleh pemerintah jelas bertentangan dengan yang seharusnya dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.

         Perbaikan kurikulum dengan melibatkan masyarakat sebagai salah satu elemen belum sepenuhnya tepat sasaran. Selama ini pelibatan masyarakat hanya dalam persoalan financial dan intrastruktur. Pemahaman yang sepenggal tentang kebujakan pendidikan justru menibulkan bahwa wacana otonomi pendidikan yang pada gilirannya memunculkan komersialisasi dan kapitalisme didunia pendidikan.

          Dalam hal bantuan operasional sekolah (BOS), pemerintah ternyata tidak sukses menjalankan. Pengucuran dana BOS ternyata hanya menjadi pengalih isu. Rakyat semakin menderita akivbat kenaikan harga barang dan bahan pokok. Akibatnya mereka yang miskin semakin tdak mampu menyentuh pendidikan lantran kebutuhan sehari-hari masih sulit dipenuhi, bahkan upaya pemerintah dengan rencana anggaran pendidikan sebesar 20 % belum dirasakan sampai kepelosok. Barangkali inilah nasib pendidikan nasional kita yang masin terhimpit dengan persoalan kurikulum dan anggaran.

kurikulum berbasis

                                           KURIKULUM BERBASIS BINGUNG(KBB)





                   Kurikulum pendidikan yang saat ini berubah-ubah menjadi kebingungan tersendiri bagi pendidik maupun peserta didik( Kedaulatan Rakyat,16 Mei 2006). Siswa seakan-akan menjadi kelinci percobaan untuk menemukan kurikulum mana yang pengaruhnya lebih besar terhadap mutu pendidikan. Jadi tak usah heran bila belum genap satu tahun kurikulum sudah diisukan satu tahun akan diganti dengan kurikulum yang lain. Lucunya lagi, perubahan kurikulum yang membingungkan ini menjadi ladang uang bagi pihak tertentu. Tiap pergantian kurikulum maka buku ajar pun berganti walaupun sebenarnya yang berubah adalah cover buku yang dipoles lebih menarik, isinya sama saja dengan buku yang digunakan kurikulum lama,dan siswa diwajibkan untuk membeli buku baru.
                  
                  Kurikulum berbasis bingung (KBB), mungkin itu lebih tepat untuk mengistilahkan kurikulum pendidikan kita yang gonta-ganti.kurikulum berbasis kompetensi ( KBK ) kemudian pada tahun 2006 diganti dengan KTSP. Kurikulum berbasis sekolah telah mengundang banyak pakar menyumbangkan ide mereka. Ada yang mengusulkan menggunakan kurikulum berbasis karakter, ada yang mengusulkan kurikulum berbasis alam dan masih banyak lagi kurikulum lainnya yang disesuaikan dengan “selera” . kira- kira kurikulum mana yang tepat untuk menjadi solusi pendidikan kita? Tidak ada yang salah dengan dengan kurikulum, yang salah adalah pelaku pendidikan. Pelaku pendidikan yang dimaksud bukan hanya guru tetapi semua element masyarakat Indonesia yang bertanggugjawab atas pendidikan. Bila pelaku pendidikan masih menganaktirikan pendidikan dan terus melakukan KKN, semua kurikulum tidak akan ada yang mampu mengantarkan pendidikan Indonesia ke puncak keberhasilan, dan pendidikan Indonesia tidak akan pernah lepas dari pembodohan siswa.